Kisah: Dia Sudah Menunggu


“Kesabaran adalah tanaman yang pahit, tetapi manis buahnya.”
Peribahasa Jerman

Aku mencintaimu ketika kamu baru merupakan satu ide, hanya sebuah impian tentang menjadi ibu di masa yang akan datang. Aku suka membuat rencana, memikirkan kamu akan seperti apa nantinya. Sulit sekali membayangkan memeluk tubuh mungilmu, benar-benar menciptakan seorang manusia kecil. Namun kutahu bahwa satu saat nanti kamu akan menjadi kenyataan, satu saat nanti impianku untuk menjadi ibu akan menjadi kenyataan.

Saat hari itu tiba aku merasa bagaikan mimpi. Aku tak bisa mempercayai bahwa kamu benar-benar ada. Aku mengelus-ngelus perutku dan berbicara padaku. Aku berpikir tentang hari kelahiranmu, hari saat aku akan bisa melihatmu dan memelukmu, untuk akhirnya melihat seperti apa kamu, bayi kecilku.  Segala yang kulakukan, kulakukan untukmu. Semua yang kumakan, setiap makanan yang kubuat, aku berpikir tentang kamu, kehidupan janin yang kuberi makan.

Ayahmu dan aku membuat rencana tentang kamarmu, kami memilih nama, kami mulai menabung untuk masa depanmu. Kami telah mencintaimu. Kami tidak bisa menunggu lagi untuk merasakan jemarimu yang mungil meremas jemari kami. Kami menunggu saat-saat memandikan tubuhmu yang lembut, mendengar tangismu yang memohon pada kami untuk merawat dan membesarkanmu.

Kami menunggu saat-saat kamu mulai berjalan, saat-saat mulai bicara, saat-saat mulai sekolah. Kami rindu untuk membantumu mengerjakan PR-mu dan melihatmu ikut bertanding bisbol. Sulit bagiku membayangkan anakku yang masih kecil memanggil pria yang kucintai “Ayah”. Ini semua merupakan hal- hal kecil yang kami lihat di masa depan selama berbulan-bulan kamu tumbuh di dalam rahimku. Kami mencintaimu!

Dalam sesaat semua impian ini direnggut dari kami.  Pada suatu pagi berkabut pada pemeriksaan rutin, kami tahu bahwa kamu telah berhenti tumbuh beberapa minggu sebelumnya. Kenyataannya, kamu meninggalkan kami tanpa memberi tahu. Semua pikiran dan impian kami untukmu menjadi sia-sia. Tetapi kami masih mencintaimu! Kami memerlukan waktu yang panjang untuk mengatasi shock ini. Kami diberi tahu bahwa aku bisa hamil lagi beberapa bulan kemudian. Tetapi kami menginginkanmu!

Akhirnya kami sadar bahwa Tuhan belum memperkenankan kami untuk memiliki anak, agar kami menjadi lebih siap nanti pada saatnya. Ini membuat kami tenang, meskipun kami kehilanganmu. Kami telah begitu bergairah mengharapkan kedatanganmu, tetapi kami mau menunggu kalau memang harus begitu.  Dan kami tahu bahwa ketika kamu datang, aku akan tinggal di rumah bersamamu dan kamu akan memiliki hidup yang lebih baik, sebab ayahmu akan bisa menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu. Dengan pemikiran seperti ini, kami akhirnya merelakan kepergianmu.

Empat tahun berlalu setelah kehilangan yang mengerikan itu. Pagi ini, aku duduk di pinggir kolam renang peribadi dengan putriku yang berumur tiga tahun. Saat aku melihat kedua tangannya yang mungil menciduk air dengan gayung, aku sangat mengagumi kemurniannya yang indah. Benar-benar merupakan keajaiban bahwa kami bisa menjadi bagian dari penciptaan semacam itu. Tiba-tiba dia melihatku dengan pandangan serius, dan dengan mata berkedip, dia berkata, “Ma, mama belum siap menyambut saya ketika saya datang pertama kali, bukan?” Aku melingkarkan kedua tanganku memeluk putriku yang cantik, dan dengan berurai air mata, aku hanya bisa berkata, “Belum, tetapi kami sangat merindukanmu saat kamu pergi.” Kami tidak lagi berduka atas kehilangan bayi kami yang pertama, sebab kini aku tahu bahwa dia telah kembali kepada kami. Anak ini adalah anak yang sama yang telah kami cintai bertahun-tahun yang lalu.

Sara Parker

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s