Kisah: Tindakan Cinta Sederhana


“Seribu kata tidak akan  meninggalkan kesan yang begitu dalam dibandingkan dengan satu perbuatan.” (Henrik Ibsen)

Di masa pertumbuhanku, ayahku selalu menghentikan apa yang sedang dia kerjakan dan mendengarkanku saat aku begitu bersemangat menceritakan apa yang telah kualami seharian. Baginya, tidak ada hal yang dilarang. Ketika aku menjadi anak berusia 13 tahun yang tinggi dan langsing, Ayahku melatihku mengenai bagaimana cara berdiri dan berjalan seperti seorang putri. Pada saat usiaku 17 tahun dan sedang jatuh cinta, aku minta nasihatnya mengenai cara menggaet seorang murid baru di sekolah. “Pertahankan cara bicaramu agar tetap netral,” katanya menasihatiku. “Dan tanyakan kepadanya tentang mobilnya.”

Aku menuruti nasihat-nasihatnya dan memberikan laporan kemajuan setiap hari: “Terry mengantarku ke locker-ku!” “Coba tebak apa yang dilakukannya?” Terry menggandeng tanganku!” “Ayah! Dia mengajakku keluar!” Terry danaku berpacaran selama lebih dari setahun, dan segera saja ayah bercanda, “Aku bisa membertiahumu bagaimana cara memperoleh pasangan; yang sulit adalah bagaimana berpisah darinya.”

Saat aku lulus dari universitas, aku siap untuk mengepakkan sayapku. Aku berhasil memperoleh pekerjaan mengajar pendidikan khusus di sebuah sekolah di Coachella, California, sebuah kota sepi sekitar 170 mil dari rumah. Pekerjaan itu bukan pekerjaan impian. Rumah sangat sederhana di seberang jalan dari sekolah merupakan sarang bagi para pemakai obat bius. Geng-geng jalanan bermunculan di sekitar sekolah setelah malam tiba. Banyak anak yang menjadi tanggung jawabku, anak-anak berusia sekitar 10-14 tahun yang mempunyai gangguan secara emosional, telaht ditangkap karena mencuri di toko, mencuri mobil atau membakar rumah dengan sengaja.

“Berhati-hatilah,” ayah memperingatkanku dalam salah satu kunjungan yang sering kulakukan di akhir pekan. Dia khawatir mengenai kesendirianku, tetapi waktu itu aku sudah berusia 23 tahun, antusian dan naif, dan aku merasa perlu untuk mandiri. Selain itu, menjadi guru sangat sulit pada tahun 1974, dan aku merasa beruntung bisa jadi seorang guru.

“Jangan khawatir, Yah,” aku meyakinkannya, saat aku memasukkan bawaanku ke dalam mobil untuk memulai perjalananku kembali ke kota yang sepi dan pekerjaanku.

Beberapa malam berikutnya aku masih tinggal beberapa saat seusai jam sekolah untuk mengatur kembali ruang kelasku. Begitu selesai, aku memadamkan lampu dan menutup pintu. Lalu aku berjalan menuju ke pintu gerbang. Pintu itu ternyata terkunci! Aku melihat sekelilingku. Setiap orang – para guru, pengawas, sekretaris – semua telah pulang dan tidak tahu kalau aku masih di dalam, masih berada di dalam kompleks sekolah. Aku melihat arloji – hampir pukul 6 sore. Aku begitu asyik dalam pekerjaanku sehingga aku tidak memperhatikan waktu.

Setelah memeriksa semua pintu keluar, aku menemukan cukup lubang untuk menerobos di bawah sebuah pintu keluar di belakang sekolah. Mula-mula aku mendorong tasku, lalu dengan posisi berbaring pelan-pelan aku menerbos keluar.

Aku mengambil tasku dan berjalan menuju ke mobilku, yang kuparkir di halaman belakang gedung.  Kulihat bayangan yang menakutkan di halaman sekolah.

Tiba-tiba, aku mendengar suara. Aku memandang sekeliling dan melihat paling sedikit delapan anak laki-laki seusia murid-murid sekolah menengah mengikutiku dari belakang. Jarak mereka dan aku kira-kira setengah blok. Sekalipun hari hampir gelap aku bisa melihat kalau mereka memakai lencana sebuah geng.

“Hai!” salah seorang di antara mereka berteriak. “Kamu seorang guru, ya?”

“Ah, dia terlalu muda – mungkin seorang asisten!” seru yang lain.

Saat aku berjalan semakin cepat, mereka terus saja mengejekku. “Wah! Dia cantik juga rupanya!”

Dengan mempercepat langkah, aku membuka tasku untuk mengambil gantungan kunci. Kalau aku berhasi mengambil kunci, demikian pikirku, aku bisa membuka pintu dan masuk sebelum… Jantungku berdegup kencang.

Dengan perasaan takut, aku berusaha mencari kunci di dalam tasku. Tetapi kunci mobil itu tidak ada di dalamnya!

“Hai! Ayo kita tangkap cewek itu!” teriak salah seorang di antara mereka.

Oh, Tuhan, tolonglah aku, aku berdoa dalam hati. Tiba-tiba, jari-jariku menemukan kunci tanpa gantungan di dompetku. Aku bahkan tidak tahu apakah kunci itu kunci mobil, tetapi aku mengeluarkannya dan memegangnya erat-erat.

Aku berlari melintasi halaman rumput ke mobilku dan mencoba kunci itu. Berhasil! Aku membuka pintu, segera masuk ke dalam mobil dan menguncinya – persis saat anak-anak lelaki remaja itu mengelilingi mobil, menendang kedua sisi mobil dan memukul-mukul atapnya. Dengan gemetar, aku mulai menghidupkan mesin dan segera melarikannya.

Kemudian malam harinya, beberapa guru kembali ke sekolah bersamaku. Dengan menggunakan lampu senter, kami berhasil menemukan gantungan kunci di tanah di dekat pintu gerbang, di mana kunci itu jatuh sewaktu aku merangkak keluar.

Saat aku kembali ke apartemenku, telepon berdering. Ternyata dari ayah. Aku tidak menceritakan kepadanya cobaan yang kualami; aku tidak ingin membuatnya khawatir.

“Oh, saya lupa memberitahumu!” katanya. “Saya membuat sebuah kunci mobil tiruan dan menyelipkannya di buku sakumu – untuk jaga-jaga kalau kamu memerlukannya.”

Sekarang, aku menyimpan kunci itu di laci lemari pakaianku dan menyimpannya seperti harta karun.  Setiap kali aku memegangnya, aku teringat akan semua hal yang luar biasa yang telah dilakukan ayah untukku selama bertahun-tahun. Aku menyadari bahwa, meskipun dia sekarang berumur 68 tahun dan aku sendiri 40 tahun, aku masih tetap datang kepadanya untuk memperoleh kebijaksanaan, bimibingan dan ketenangan. Lebih dari semua itu, aku kagum pada kenyataan bahwa sikapnya yang bijaksana dalam membuat kunci tiruan telah menyelamatkan hidupku. Dan aku memahami bagaimana sebuah tindakan cinta yang sederhana bisa membuat hal-hal yang luar biasa terjadi.

Sharon Whitley

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s