Kisah: Kode Etik di Jalan Raya


Sebagai seorang sekretaris dan putri seorang pengemudi truk, aku tumbuh jauh lebih dekat dengan ibu dibanding dengan ayah. Sebagai kanak-kanak, aku memang “gadis kecil Ayah”, tetapi kemudian aku mencapai umur belasan itu dan hubunganku dengan ayah menghilang. Dia melewatkan sebagian besar hidupnya di jalan, berangkat sebelum jam 4 pagi dan sampai di rumah lagi setelah aku terlelap di malam hari. Saat aku sudah cukup besar untuk tidur setelah lewat jam 9:00 malam, aku bukan lagi “gadis kecil Ayah”, aku sudah menjadi seorang remaja putri. Kami berdua seperti orang asing satu sama lain – aku tidak mengetahui tentang dirinya dan dia juga tidak mengetahui tentang diriku. Rasanya seperti pada suatu pagi aku masih kanak-kanak ketika di berangkat mengemudikan truknya, dan, ketika dia kembali pada malam harinya, aku sudah berumur 13 tahun. Memerlukan waktu bertahun-tahun bagiku untuk memahami bahwa dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya terhadapku. Dia tidak tahu bagaimana cara menangani seorang remaja putri yang hormon-hormonnya sedang “menggila” dan sangat cerewet.  Gadis kecil yang mengagumi ayahnya sudah berubah menjadi seorang remaja putri berumur belasan yang suka bikin heboh dan selalu merasa benar dalam setiap perdebatan. Maka dimulailah sebuah pelajaran yang tak akan pernah kulupakan…

Saat itu aku adalah seorang remaja putri yang memiliki impian-impian besar dan pikiran yang terbuka.  Selama waktu-waktu yang paling sulit di dalam hidupku, aku percaya bahwa ibuku mendukungku. Ketika dia mencoba membimgbingku, tentu saja aku menentang setiap cara yang dia lakukan. Tetapi dia tidak pernah menyerah, dan akhirnya aku tumbuh dewasa dan masa pubertas yang menggebu-gebu dan perilakuku yang meledak-ledak itu pun berlalu. Selama waktu-waktu itulah aku mendapatkan pelajaran yang penting dari ayah. Pelajaran tentang kekuatan, cinta, kejujuran, dan kebaikan.

Pada suatu malam dia kembali setelah melakukan perjalanan, mungkin mengirimkan barang ke Brooklyn, Bronx, Harlem atau Philadelphia. Dia bercerita kepada kami bahwa pada siang harinya dia berada di jalan raya dan melihat seorang wanita membuka bagasinya untuk mengeluarkan ban cadangan. Ayah menghentikan truknya, memperkenalkan diri dan menawarkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan mengganti ban mobilnya yang kempes. Sewaktu ayah mendongkrak mobil itu, wanita itu menyampaikan rasa terima kasihnya kepada ayah atas kebaikannya. Dia mengatakan ketakutan banyak orang terhadap kejahatan di daerah-daerah perkotaan sering kali membuat masyarakat setempat tidak mau berhenti untuk saling membantu. Ketika ayah sudah selesai mengganti ban itu dan mengembalikan semua peralatan ke tempatnya semula, wanita itu memberikan uang sebesar $20 kepada ayah atas jerih payahnya. Ayah tersenyum kepadanya dan berkata, “Tidak usah. Aku mempunyai istri dan seorang putri yang baru saja mulai mengemudikan mobil, dan satu-satunya harapanku adalah bahwa kalau saja salah seorang di antara mereka mengalami kerusakan mobil di tengah jalan, seseorang yang jujur dan baik hati akan berhenti untuk menolong mereka seperti yang baru saja saya lakukan kepada Anda.” Ayah mengucapkan selamat berpisah dan masuk lagi ke dalam truknya yang beroda 18 yang dia tinggalkan dengan mesin yang masih menyala di bahu jalan.”

Ini merupakan salah satu sisi kehidupan ayah dan aku sering kali tidak melihatnya. Selama hidupku, ayahku yang keturunan Brooklyn-Italia secara sambil lalu mengajarkan kepadaku aturan-aturan di jalan raya dan kehidupan melalui kisah-kisah lucu yang diceritakan secara riuh-rendah dengan teman- temannya sesama pengemudi truk di pesta-pesta keluarga. Melalui gelak-tawa, aku mendengar penjelasan tentang tempat aman “di jalan” untuk tidur, di mana bisa makan, definisi rasa hormat, kejujuran dan kerja keras, dan cara para pekerja “kerah biru” bertahan hidup. Aku berusia 24 tahun sebelum aku menyadari betapa aku telah banyak belajar darinya.

Pada tahun 1992, aku pindah dari rumah orangtuaku di New Jersey ke sebuah apartemen di Kansas timur, di mana aku bekerja sebagai seorang sukarelawan untuk sebuah organisasi hak-hak sipil. Selama tiga setengah tahun itu aku hampir selalu berpergian. Pada suatu hari, seorang putri temanku yang berusia 12 tahun mengajakku ke Kansas barat untuk bergabung dengan “Walk Across America for Mother Earth.” Sebagai seorang yang sangat percaya akan daur ulang dan menyelamatkan lingkungan kita, aku setuju. Keesokan harinya aku meminjam mobil seorang teman untuk menempuh perjalanan selama empat jam.

Kami hampir menempuh setengah perjalanan ketika ban belakang sebelah kiri meletus. Aku berusaha keras mengendalikan mobil dan berhasil menghentikannya di tepi jalan. Dengan perasaan sedih, aku menarik napas dalam-dalam dan keluar dari mobil. AKu menuju ke bagasi untuk mengeluarkan ban cadangan. Saat aku mengeluarkan dongkrak, sebuah truk beroda 18 seperti terbang melewati kami dalam kecepatan penuh. Aku sedang mencoba memasang dongkrak saat kudengar derit rem angin di seberang jalan. Aku mendongak dan melihat seorang pengemudi truk berlari melintasi empat jalur jalan raya untuk memberikan pertolongan kepada kami. Pengemudi truk itu mengatakan bahwa pengemudi truk beroda 18 sebelumnya telah memberitahunya lewat radio bahwa kami sedang dalam kesulitan. Dia memperkenalkan dirinya, bertanya ke mana kami akan pergi, dan mengambil dongkrak dari tanganku.  Dalam wakut 20 menit, ban cadangan telah selesai dipasang dan dongkrak dimasukkan kembali ke dalam bagasi.

Aku diberi tahu oleh pengemudi truk itu untuk berhenti di bengkel mobil terdekat untuk mengganti ban itu dengan ban baru. Dia mengatakan kepada kami bahwa “donut” cadangan itu tidak akan mampu untuk melakukan perjalanan pulang-pergi. Saat kami mengucapkan selamat berpisah, aku mengambil uang $20 dan memberikannya kepadanya karena telah menolong kami. Dia tersenyum dan berkata dengan aksesn Midwestern-nya yang kental, “Saya memiliki putri yang sebaya dengan Anda – satu-satunya ucapan terima kasih yang kuperlukan adalah berharap bahwa seandainya saja dia mengalami kerusakan mobil di jalan, seseorang yang jujur akan berhenti menolongnya seperti yang telah saya lakukan kepada Anda.”  Aku mendengar dialek Brooklyn ayahku sendiri mengulangi sentimen yang hampir sama. Aku menceritakan tentang ayah kepada pengemudi truk itu dan pengalamannya di New Jersey. Pengemudi truk itu tersenyum, dan sewaktu dia melintasi jalan raya, dia menoleh dan berkata, “Ayah Anda adalah orang yang baik … dia tahu kode etik di jalan raya.”

Aku berhenti di auto plaza terdekat untuk mengganti ban. Dengan menggunakan kartu telepon, aku menelepon ayah, meskipun aku tahu bahwa aku tidak akan bisa bicara dengannya karena setiap orang tengah bekerja. Aku meninggalkan pesan untuk ayah, mengatakan kepadanya tentang pengemudi truk yang telah menolongku dan berterima kasih kepada ayah karena mengetahui kode etik di jalan raya.

Terima kasih secara khusus dari seorang putri pengemudi truk kepada semua pengemudi yang mengetahui dan memahami kode etik di jalan raya … terutama dua orang gentlemen di Kansas yang telah menolongku.

Michele H. Vignola

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s